Tetesan Sisa
May 8th, 2008 by sariefebrianeTulisan ini di-published 5 Maret 2008 (Kompas). Seperti biasa dan umum terjadi, artikel2 di koran kerap dimuat juga di beberapa situs, blog atau milis. Tapi, ada yang aneh, gw gak sengaja nemu ada forum di salah satu situs yang memuat tulisan gw yang belum diedit. Gw inget banget, ada poin (soal perbandingan secangkir kopi starbucks dengan penghasilan anak2 pasar) yang diedit dan tak termuat di koran. Tapi kok situs itu bisa memuat yang ada poin itu ya?? Dari mana dia dapat versi kasar tulisan itu ya? Tapi meski begitu, ada susunan kalimat yang berbeda dan jadi agak kacau di tulisan gw (yg dimuat situs itu). Sungguh mengherankan. So, gw putuskan utk muat juga di blog ini versi asli (tidak ada yg dipotong) tulisan itu dari file pribadi.
TETESAN SISA UNTUK IBUNDA
Matahari tengah merambat naik ketika dua bocah lelaki memulai
petualangannya di lorong-lorong pasar yang kumuh. Di setiap muka toko sembako, mata mereka selalu tertumbuk pada onggokan jeriken-jeriken minyak yang telah "kosong". Sekadar berharap ada tetes-tetes minyak yang tersisa sebagai oleh-oleh untuk ibunda pada akhir pekan.
Zaenal (13), salah satu dari bocah itu, mengambil satu jeriken
minyak berukuran 18 liter itu. Diangkatnya tinggi-tinggi jeriken
berwarna putih transparan tersebut. Sama-samar, di dasar jeriken tampak membayang sisa-sisa minyak menggenang. Zaenal lalu menuangkan pelan-pelan tetes demi tetes minyak goreng itu pada sebuah gelas plastik bekas minuman kemasan, yang dipegangnya dengan hati-hati di tangan kirinya.
"Buat Ibu. Buat goreng tempe, tahu, kadang-kadang ikan," tutur
Zaenal dengan nada suara datar.
Siang itu, Zaenal ditemani Ujang (12) menelusuri Pasar Kebayoran
Lama, Jakarta, untuk mencari minyak goreng sisa. Sama seperti Zaenal, Ujang mencari minyak goreng sisa untuk ibunya di rumah. Kedua bocah ini tinggal di Parung Panjang, Kabupaten Bogor.
Pasar Kebayoran Lama menjadi tujuan yang efisien bagi mereka
berdua. Mereka tinggal menumpang kereta api, lalu turun di Stasiun
Kebayoran Lama.
Setelah merasa cukup mendapat minyak goreng, keduanya lalu menuju sebuah bilik bambu yang reyot dan pengap. Bilik berukuran 2 x 1 meter itu rupanya pada pagi hari digunakan sebagai lapak penjualan ikan asin. Kedua bocah itu lalu menyimpan kedua gelas plastik berisi minyak buruan tadi di bawah sebuah balai-balai. Di bilik itu Zaenal dan Ujang bermalam.
Sejak harga minyak goreng terus melambung, hingga kini menembus Rp 14.000 hingga 15.000 per liter untuk minyak goreng curah, anak-anak pemburu minyak goreng sisa makin marak menghiasi lorong-lorong kumuh di pasar tradisional. Setidaknya di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, ada sekitar 100 anak yang saban hari berburu minyak goreng sisa. Beberapa dari mereka berburu minyak goreng sisa seusai waktu sekolah.
Namun, banyak juga dari mereka yang memilih tinggal di pasar
berhari-hari dan baru pulang ke rumah pada akhir pekan, seperti halnya Zaenal dan Ujang.
"Anak-anak kayak gitu (yang tinggal di pasar) nambah banyak aja,
seratusan ada, terutama habis Lebaran kemarin. Pada tidur di mana aja, kalau udah malam pada di sini istirahatnya," tutur Ara (60), penjual nasi rames di Pasar Kebayoran Lama.
Sekitar lokasi warung Ara, yang tidak jauh di belakang los
penjualan daging sapi, merupakan tempat anak-anak pasar itu berkumpul saban malam. Di warung nasi milik Ara pula anak-anak itu kerap membeli makan.
Putus sekolah
Anak-anak yang tinggal di pasar itu, termasuk Zaenal dan Ujang,
memang tidak lagi bersekolah. Mereka putus sekolah sejak kondisi
ekonomi keluarga terus memburuk, apalagi sang ayah biasanya hanya
pekerja serabutan. Sementara itu, anggota keluarga mereka yang lain, terutama adik-adik mereka, masih membutuhkan biaya.
Sejak putus sekolah, Zaenal diajak teman-teman di kampungnya di Parung main-main di kereta api. Berangkat dari rutinitas bermain di
kereta itulah Zaenal lalu berkenalan dengan dunia pasar. Rupanya di
pasar ia bisa mendapatkan kehidupan.
Sama seperti Ujang, ayah Zaenal pun hanya pekerja serabutan.
Artinya, frekuensi kerjanya sangat tak tentu. Sementara ibu mereka pun tidak bekerja karena harus mengurus anak yang jumlahnya cukup banyak. Zaenal merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara, sedangkan Ujang anak kedua dari lima bersaudara.
Aktivitas Zaenal dan Ujang di pasar tradisional tak hanya memburu
minyak goreng sisa. Mereka juga bekerja dengan menjual kantong plastik untuk belanjaan Rp 500 per buah, sekaligus menjual jasa, yaitu sebagai kuli angkut belanjaan. Dari jasa membantu menenteng belanjaan para pengunjung pasar, mereka bisa mendapat Rp 1.000-Rp 2.000 sekali angkut.
Dalam sehari mereka bisa mendapatkan sekitar Rp 10.000, terutama dari hasil menjual jasa angkut belanjaan. Uang sejumlah itu sebagian digunakan untuk makan di warung nasi Ara tadi. Ara bercerita, frekuensi anak-anak pasar itu makan tergantung dari pendapatan mereka dalam satu hari. Sekali makan, mereka rata-rata membayar Rp 3.500 dengan lauk sayur dan tempe.
Ujang mengaku baru bisa makan dua kali jika sehari sebelumnya ia
bisa menghasilkan Rp 15.000 atau seharga satu cangkir single espresso di kedai kopi Starbucks. Ujang dan Zaenal rupanya lebih memprioritaskan menyisakan uang hasil kerja mereka untuk tambahan belanja ibunda mereka.
Jadi, setiap akhir pekan, selain membawa oleh-oleh minyak goreng sisa, anak-anak itu juga tak lupa membawa rupiah sekadarnya untuk sang ibu.
Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan, memburuknya kondisi ekonomi yang ditandai dengan
melambungnya berbagai harga bahan pokok di kala daya beli merosot pada akhirnya membawa korban anak-anak. Kualitas hidup anak dipastikan akan terus merosot. Bahkan, Arist memastikan, hingga tahun 2008 ini jumlah anak putus sekolah di Indonesia akan menembus pada kisaran 12 juta anak.
"Mereka akan menjadi korban. Padahal, mereka ini tanggung jawab negara," ujar Arist Merdeka Sirait. (Sarie Febriane)