Populis dan Strategis

Saya hanya sekadar ingin mencatat suatu momen. Catatan untuk diri sendiri. Dengan pertimbangan, catatan yang ditoreh di dunia maya ini tak akan terselip entah kemana. Karena saya sangat ceroboh.

Saya ingin mencatat momen itu karena menurut saya menarik, lucu. Lucu, yang memang lucu. Dan, saya ingin bisa mengingatnya lagi suatu saat nanti berdasarkan catatan online ini. Sebab itu saya mencatatnya di sini.

Saya hanya ingin mencatat, bukan beranalisa canggih. Karena saya tak mampu. Ya, jujur saja saya kadang menikmati cerita-cerita sekitar panggung politik di negeri ini. Tapi saya tak menggandrunginya dalam pengertian mencinta. Hanya sesekali menonton, menikmati, sambil lalu. Sekadar pokoknya tak ketinggalan isu. Apalagi profesi yang saya jalani kerap mesti berkubang di ranah itu.

Cerita2 politik saat ini memang sekadar asyik dinikmati seperti layaknya gosip infotainment. Enak ditonton dan (terkadang) perlu.

Nah, ada satu potret yang menarik dalam momen lebaran kali ini.

Tentang "Krisna" dan pasangannya, "Bima".

Satu berita di televisi kemarin, saya lupa channel apa, secara datar bercerita tentang hal-hal yang dilakukan dua "pemimpin" itu saat lebaran.

Apa yang mereka berdua lakukan, sebenarnya sudah bisa ditebak. Sebab, sangat khas. Khas masing-masing dari dua pribadi itu.

Krisna memilih "aktivitas lebaran" dengan open house, baik di Istana maupun di kediaman pribadi, Cikeas. Siapapun boleh datang. Dan, ribuan yang datang.

Enggak sedikit rakyat dari berbagai daerah bela-belain menyambangi Sang Presiden untuk sekadar berjabat tangan. Mungkin aliran darah akan terasa berdesir-desir dan paru-paru di dada penuh oleh oksigen segar saat tangan-tangan mereka bersentuhan secara nyata dengan tangan Sang Presiden. Kultur yang masih demikian paternalistik di negeri ini menjaga dan melestarikan sensasi desir2 semacam itu.

Nah, bagaimana dengan Sang Presiden? Ah, kasihan wajahnya. Senyumnya tak lagi segar. Capek? Jelas…ribuan tamu.

Begitulah. Pilihan pada "aktivitas lebaran" yang demikian tentu saja menguras energi. Tapi mungkin tak masalah untuk Sang Presiden. Demi "menyenangkan" rakyat.

Nah, karena itu aktivitas ini hanya bisa diformulasikan dalam satu kata : 

P o p u l i s . 

Memang begitulah salah satu "kekhasan" Krisna yang satu ini. Selalu berupaya "populis". Beragam cara ditempuh, termasuk menginap di tenda dan bermain gitar di kawasan bencana…:) Apakah cara itu efektif, efesien, dan signifikan, entahlah. Yang pasti, polisi lalu lintas kerap dag dig dug ketika Krisna pulang ke kediaman pribadinya lantas menurunkan kaca jendela mobil untuk melambai-lambaikan tangan kepada rakyat..:)

Memang, open house demikian bukan hanya dilakukan presiden yang saat ini saja. Deretan presiden2 yang lalu pun melakukannya. Bukan sesuatu yang baru.

Namun….apa pretensinya…? Setiap eksekusi tindakan meski secara harfiah serupa….tapi nyaris selalu punya pretensi yang tak serupa.  Saya tak tahu persis. Dua kali open house dengan agenda utama yang sama: bersalaman dengan rakyat.

Hmm…open house ala Krisna mungkin tidak menjadi menarik "ditonton" jika tidak ada komparasinya. Komparasi yang paling menarik, siapa lagi kalau bukan dari pendampingnya sang Wakil Presiden, Bima.

Bima memilih "aktivitas lebaran" dengan menyambangi deretan pejabat dari pemerintahan masa kini maupun lalu, kalangan sipil maupun militer. Pejabat-pejabat setingkat menteri, entah itu ketua komisi hingga ketua lembaga peradilan tingkat tertinggi, masuk dalam daftar "safari" lebarannya. Yang dikunjungi kaget. Sebab, seorang Bima sepatutnya dalam kultur paternalistik ini dikunjungi oleh pejabat "di bawahnya".

Nah, satu kata yang bisa memformulasikan eksekusi aktivitas lebaran Sang Bima :

S t r a t e g i s.

Paling tidak, Bima yang satu ini selalu berupaya strategis. Halus atau vulgar, implisit ataupun ekspllisit…Tinggal mana yang sedang pas.

Soal pantas tidak pantas, layak tidak layak, etis tidak etis, dll….Bukan perkara yg krusial.

Hueheheheheheh……..

Coba kita "lihat" cerita apa yang akan tertoreh beberapa waktu ke depan….

Merujuk pada kerangka efektivitas dan efesiensi dalam rangka menuju sasaran atau agenda; cara seperti apa yang relatif efektif dan efesien untuk ditempuh dalam atmosfer negeri yang seperti ini ?

Apa sih yang rakyat (jelata) mampu berikan pada seseorang "pemimpin" selain suara (vote) atau popularitas?

Dan, apa pula sih yang bisa diberikan simpul-simpul birokrasi pada seorang "pemimpin" ?

Let’s see.

5 Responses to “Populis dan Strategis”

  1. Agatha Says:

    bu…bu :) boleh tanya pertanyaan ga penting ga? :) kenapa pak waketu diwakilkan bima? karakter yg mana dari si tokoh bima yg mengacu ke pak waketu? mmm bukan karakter jujurnya tho? hehehe….

  2. Sarie Says:

    Mbak Agatha, Krisna dan Bima itu adalah istilah sandi polisi terhadap RI 1 dan RI 2. Bisa ganti2. Tapi di pemerintahan SBY-JK sekarang yang dipake dua sandi itu. Jadi kalau keduanya akan melaju di jalanan, nah sesama polantas pada sibuk deh tuh calling2 di HT utk melapangkan jalanan. Nah di HT itu mereka nyebut keduanya Krisna dan Bima. Gethooo…Kalo Megawati dulu jg ada sandinya, salah satu tokoh legenda jg…
    So, emang gak ada hubungannya sama kualitas atau integritas pribadi2 tsb. Tapi sekadar sandinya polisi…Sayang ya, sandi yg oke belum tentu yang disandiin oke. hehehe

  3. Anton Says:

    Yang jelas bila di pemilu depan 2009 aku memilih SBY-JK berarti tindakanku bisa dikategorikan ketololan terbesar abad ini. Balik pilih Gus Dur!!!!!!

  4. Anton Says:

    Nah kalo jaman PKI dulu nggak lama setelah G 30 S, Sukarno mendapat nama sandi Kresno dan Soebandrio nama sandinya Ceweng, entahlah apa maksudnya…?

    Tau nggak nama sandi Suharto dulu…?
    Semar…

  5. Tips Beauty Says:

    I ve been reading along for a while now. I just wanted to drop you a comment to say keep up the good work.

    Joan
    Tips Beauty

Leave a Reply